jim morrison

Mungkin Anda ingin mengetahui, mengapa banyak sekali orang memakai kaos dengan potret Jim Morrison?

Jim Morrison, Sang Legenda.

Liar, rebel, dan brilian. Ialah Jim Morrison, seorang musisi legendaris dengan segala keunikan dan sifat bebasnya yang entah bagaimana dapat menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Dimana pun Anda bertemu dengan fans the Doors, kemungkinan besar Jim Morrison menjadi daya tarik yang kuat dalam band ini.

Jim Morrison terlahir dengan nama James Douglas Morrison pada 8 Desember 1943 di Melbourne, Florida, Amerika Serikat. Ia terlahir dari pasangan Clara Clarke Morrison dan George Stephen Morrison yang merupakan seorang Admiral Angkatan Laut Amerika.

Karena pekerjaan ayahnya, Jim kecil terbiasa hidup di lingkungan yang berpindah-pindah. Ia pun tumbuh sebagai remaja pemalu yang terbiasa berkawan dengan karya-karya literatur dan menarik diri dari kehidupan sosialnya.

Ketertarikannya dengan dunia seni ia perdalam dengan melanjutkan pendidikannya di University of California, Los Angeles (UCLA) pada bidang sinematografi.

Di masa kuliahnya inilah, ia bertemu dengan Ray Manzarek yang kemudian memutuskan untuk membentuk sebuah band bernama the Doors.

Kehidupan pribadi
Jika disinggung nama Jim Morrison, beberapa kata seperti rebel, liar, dan pemberontak menjadi kata-kata yang akrab untuk mendeskripsikan Jim Morrison. Tapi jauh di samping itu semua, sosok Jim Morrison pun dapat dikatakan menarik, cerdas, dan santun. Dengan berbagai sifat yang kontradiksi tersebut, bagi beberapa orang, Jim Morrison seperti berkepribadian ganda.

Berbagai sifat yang ada dalam diri Jim Morrison boleh jadi merupakan buah dari kehidupan silamnya terdahulu. Di mana ketika ia masih sangat kecil ia terbiasa hidup berpindah-pindah.

Dengan lingkungan yang selalu berbeda, Jim menjadi seorang yang pemalu dan menarik diri dari kehidupan sosialnya. Ia lebih terbiasa berkawan dengan buku dan mengekspresikan dirinya melalui sifat-sifat yang secara acak berubah-ubah.
Tapi sejatinya, Jim adalah seorang yang cerdas dalam mengolah kata. Ia begitu tertarik dengan dunia seni dan melanjutkan untuk berkuliah di UCLA jurusan sinematografi pada tahun 1964.

Di kampus yang telah juga mendidik sutradara papan atas sekelas Stanley Kramer inilah ia menyelesaikan pendidikannya pada Theatre Arts Departments of the College of Fine Arts pada tahun 1965.

Selama masa pendidikannya, ia mendapatkan banyak sekali ilmu pengetahuan yang mempengaruhi gayanya dalam pengolahan kata. Jim Morrison mulai mengenal konsep surealis yang belakangan diaplikasikan dalam berbagai karyanya.

Tapi Jim adalah Jim, jiwanya bebas. Ia tidak pernah datang di upacara kelulusannya. Ia mendapatkan pemberitahuan kelulusan melalui surat dan tidak pernah merayakan kelulusannya.

UCLA tidak hanya memberikan pengaruh pada sensibilitas berpuisi Jim Morrison, tapi juga mempertemukannya dengan sosok Ray Manzarek.

Ray adalah seorang sarjana ilmu ekonomi yang merupakan mantan pianis Angkatan Darat. Bersama dengan Ray Manzarek, Jim Morrison sepakat untuk merekrut beberapa orang untuk melengkapi formasi band yang belakangan dikenal sebagai The Doors.

The Doors
Pertemuan Jim Morrison dengan Ray Manzarek merupakan awal dari terbentuknya The Doors. Pada mulanya, keduanya tergabung dalam sebuah band bernama Rick & The Ravens bersama dengan saudara Ray Manzarek, Rick Manzarek.

Namun Rick & The Ravens tidak bertahan lama. Setelah Rick keluar dari band, Jim dan Ray mulai merancang formasi band yang akan mereka bentuk. Nama John Densmore yang tidak lain merupakan kenalan Ray Manzarek muncul sebagai kandidat drummer dan Robby Krieger pun direkrut sebagai gitaris.

Robby Krieger merupakan seorang gitatis yang telah terbiasa memainkan musik blues dan flamenco. Ajakan Jim dan Ray tersebut disambut baik oleh Robby. Sementara John Densmore adalah seorang drummer yang akrab dengan permainan jazz.
Dengan formasi Jim Morrison sebagai vokalis, Ray Manzarek sebagai keyboardis, Robby Krieger sebagai gitaris, dan John Densmore sebagai drummer, mulailah keempatnya membentuk sebuah band bernama The Doors.

Nama The Doors sendiri terinspirasi dari sebuah puisi karya William Blake yang berjudul The Marriage of Heaven and Hell. Di mana pada puisi tersebut, William Blake menuliskan syair, “ If the doors of perception were cleansed, everything would appear to man as it truly is, infinite”.

Namun perjalanan Jim Morrison dan band-nya tidak selalu berjalan mulus.

Ia bahkan tidak mengantongi restu dari Sang Ayah yang menganggap ide Jim membentuk sebuah band rock adalah ide yang buruk. Hubungan Jim dan keluarganya setelah itu tidak berjalan dengan mulus. Ia berhenti memberikan kabar kepada orangtuanya dan cenderung menjawab asal pertanyaan-pertanyaan yang berbau keluarga. Dalam sebuah interview, misalnya, ketika ia ditanya mengenai orangtuanya, Jim menjawab keduanya telah meninggal.

The Doors mengawali karir mereka sebagai band dengan pentas dari klub ke klub. Dengan lagu-lagu yang diciptakan sendiri, The Doors mulai menggemakan namanya diberbagai klub yang ada di Los Angeles. Hingga suatu malam, Jim Morrison dan band nya mementaskan karya mereka yang berjudul “The End” di klub bernama Whisky a Go Go dengan cara yang berbeda.

Ia berimprovisasi dengan cara brutal, liar, dan dikatakan tidak senonoh dengan menambahkan potongan adegan dari Oedipus Rex yang mencekam pada pertengahan lagu. Serentetan kata tidak senonoh seperti “Fuck the mother, kill the father” diucapkannya seraya berimprovisasi dan mengakibatkan klub menjadi rusuh.
Pemilik klub marah besar dan memecat The Doors dari klub nya.

Tapi rupanya inilah yang menjadi awal dari ketenaran nama The Doors. Saat itu rupanya penampilan Jim dan kawan-kawan dilihat oleh Paul Rotchild, seorang produser dari label rekaman Elektra. Melihat aksi panggung yang menghipnotis tersebut, Paul Rotchild mengajak The Doors untuk bergabung dalam label rekaman Elektra. The Doors bergabung dengan Elektra dengan Paul Rotchild sebagai produsernya pada tahun 1966.

Album pertama The Doors lahir segera setelahnya dengan titel “The Doors” dan “Break on Through” sebagai single pertama mereka. Namun lagu itu tidak disambut baik oleh masyarakat.

Alih-alih Break on Through, Light my Fire, sebuah lagu yang menceritakan tentang kehidupan drugs, dan sex yang disimbolkan dalam bentuk fire, menjadi karya yang populer. Sebuah mahakarya berdurasi lebih dari 7 menit yang mengawali ketenaran The Doors.

Bersamaan dengan meningkatnya populeritas The Doors, kehidupan Jim dan kawan-kawannya tidak lagi sama. Terlebih Jim, kisah asmaranya dengan manusia, alkohol dan obat-obat terlarang semakin mendalam.

Hidupnya bersama dengan The Doors telah menerbitkan 6 album studio, 4 buah buku puisi, dan 1 album solo berjudul “An American Prayer” yang terinspirasi dari sebuah kejadian nyata yang ia alami semasa kecilnya dan diterbitkan dua tahun setelah Jim Morrison meninggal.

Jim Morrison yang Kekal
“There are things known and unknown and in between are the doors”. Sebuah petikan singkat dan populer dari Jim Morrison boleh jadi dikatakan salah satu petikan yang menggambarkan kehidupannya.

Semasa hidupnya, Jim telah banyak menyiptakan fenomena dalam kehidupannya. Namun demikian, apa yang terlihat pada diri Jim Morrison tidak dapat membuat seseorang menelanjangi pikiran Jim Morrison.

Aksi panggungnya yang treatikal memberikan banyak inspirasi bagi penggemarnya.

Kehidupannya bebasnya seperti menyetujui kredo Sex, Drugs, and Rock n’ Roll.

Kehidupan asmaranya dijalaninya selayaknya seorang hippies. Ia terlihat akrab dengan berbagai wanita namun hubungannya dengan Pamela Courson bahkan tidak dapat dijabarkan dengan runut. Hubungannya dengan pasangan kosmiknya ini melibatkan puisi, lagu, kekerasan, dan alkohol serta menjadikan Jim seorang dengan pribadi yang tidak dapat diprediksi.

Sejak dirinya meninggal 44 tahun lalu di tahun 1971, sosok Jim Morrison selalu lekat dengan image pemberontak. Wajah dan namanya hingga kini akrab di berbagai kaos dan stiker yang mengusung pencarian jati diri. Dengan berbagai peristiwa hidup yang ia jalani, sosok Jim Morrison menginspirasi banyak orang dengan caranya yang berbeda.

Jim meninggal dunia di tahun 1971. Ia ditemukan telah tewas, tidak bernyawa, di kamar apartemen sewaannya di Rue Beautreillis, Le Marais, Paris, Perancis. Sosoknya ditemukan telah tidak bernyawa oleh Pamela Courson. Banyak spekulasi yang mengantar kepergian Jim.

Jim dimakamkan di Pere Lachaise Cemetry, Perancis, tempat beberapa pekerja seni besar pun dimakamkan.
Meski telah meninggal dunia, namanya dan The Doors tetap kekal dalam kaos dan stiker berbagai generasi. Jim Morrison telah menjadi simbol bagi kehidupan bebas dan pemberontak bagi berbagai generasi.

Leave your comment

Your email address will not be published.